Selasa, 06 September 2011

Hubungan Muslim Terhadap Islam

Semenjak kecil, kita sudah Muslim. Namun kebanyak di antara kita, menjadi Muslim karena keturunan. Maksudnya, karena kakek dan bapak-ibu kita sudah Muslim. Bukan menjadi Muslim atas kesadaran sendiri.
Karena itu jangan heran, di lapangan dan di sekitar kita, jutaan orang mengaku Muslim, namun semua tindak-tanduknya, sesungguhnya sangat tak mencerminkan sikap sebagai orang Muslim. Seperti sinetron salah satu TV swasta, Islam KTP. Identitas Islam hanya di kartu tanda penduduknya saja.

Seorang berprediket Muslim yang benar, setidaknya ia harus memiliki lima pola hubungan dan sikap terhadap Islam atau manhajut talaqqi lil Islam.
Pertama: Seorang muslim adalah orang yang berlepas diri dari kemusyrikan (selingkuh kepada-Nya) dan kekafiran (ingkar kepada Allah SWT).
اشْتَرَوْاْ بِآيَاتِ اللّهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِهِ إِنَّهُمْ سَاء مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

لاَ يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلاًّ وَلاَ ذِمَّةً وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ
"Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui." (QS. At Taubah: 10- 11).

Ayat ini menegaskan bahwa muslim adalah orang yang telah mentauhidkan Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya, selalu mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya, mendekati-Nya dan tidak menjauhi-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan tidak mengingkari-Nya (mu’taqodat), memuji-Nya dan tidak mencela-Nya, mengagungkan-Nya dan tidak merendahkan-Nya, menomorsatukan-Nya dan tidak menduakan-Nya, serius menyambut seruan-Nya dan tidak menyepelekan-Nya. Kemudian mendirikan shalat, menunaikan zakat (al-Jawarih).
Shalat berkaitan dengan waktu tertentu, zakat berkaitan dengan nishab dan kemampuan. Sedangkan membebaskan diri dari belenggu/jeratan kemusyrikan dan kekafiran adalah kewajiban selama-lamanya, kapanpun dan dimanapun. Tidak terikat dengan ruang dan waktu.
Muslim yang benar adalah ketika anti kemusyrikan, kekafiran, anti hukmul jahiliyyah, dhannul jahiliyyah, syakwal jahiliyyah, hamiyyatul jahiliyyah, tabarrujul jahiliyyah, da’wal jahiliyyah dan memproklamirkan kalimat tauhid “ LA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH”.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Malik al-Asyja’i bahwa Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ قاَلَ لاَ الَهَ الا الله وَكَفَرَ بما يعبد من دون الله حَرَم اللهُ دَمُهُ وَماَلُهُ وَحساَبُهُ عَلَى الله

"Barangsiapa mengikrarkan laa ilaaha illallah dan dia mengingkari segala perhitungannya terserah Allah SWT." (HR. Muslim).

Kedua: Seorang muslim adalah seorang yang memiliki keterikatan yang kuat (iltizam) dengan kalimat tauhid yang telah diucapkan

Kunci masuk Islam adalah mengikrarkan kalimat tauhid. Orang disebut muslim ketika dia sudah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang maujud (eksis), yang berhak disembah kecuali Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah SWT. Tetapi syahadat itu tidak sekedar diucapkan di bibir. Tetapi pernyataan menuntut kenyataan dan pembuktian di lapangan kehidupan (waqi’ul hayah). Orang muslim ketika dia sudah berpegang teguh dengan kalimat “la ilaaha illallah” yang dia ikrarkan. Orang disebut berpegang teguh dengan kalimat tauhid, jika ia ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah SWT.

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدمِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [syetan dan apa saja yang disembah selain Allah SWT] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui." (QS. Al Baqarah: 256).

Ayat ini menegaskan bahwa seorang dikatakan berpegang teguh dengan kalimat thayyibah ketika ia mengingkari thaghut dan hanya beribadah kepada Allah SWT. Mendarmabaktikan hidup dan matinya hanya untuk Allah SWT. Inilah makna tauhid, ketika orang disebut muslim adalah yang mengamalkan makna kalimat yang terkandung didalamnya.

 قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِين لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِي َ 
     
"Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al Anam: 162-163).


Ayat tersebut ditegaskan bahwa orang muslim adalah orang yang menyerahkan shalat, seluruh ibadah dan pengabdiannya, hidup dan matinya, hanya untuk Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya. Ini pula makna tauhid. Yaitu menghambakan dirinya hanya kepada Allah semata dan selingkuh kepada-Nya. Ini makna Islam. Yakni tunduk dan taat kepada-Nya.
Jadi, jika belum membenarkan dan mengamalkan kalimat tauhid (yang tergambar dalam rukun iman), belum mengamalkan Islam (yang tercermin dalam rukun Islam), bukanlah disebut muslim. Islam adalah gabungan dari keyakinan dan amal, aqidah dan syariat, lahir dan batin, i’tiqad dan ibadah.

Ketiga: Seorang muslim adalah orang yang mengamalkan rukun-rukun (pilar-pilar Islam).
Sudah kita maklumi bahwa rukun Islam ada lima bagian. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

بُنيَ الاسْلامُ عَلَى خَمْس : شَهاَدَةُ أنْ لاَالَهَ الاالله وَأن مُحمدا رَسُوْلُ الله وَاقاَمَةُ الصلاة وَايتاءُ الزكاة وَحج الْبَيت وَصَوْم رَمَضانَ

"Islam itu didirikan diatas lima dasar, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke baitullah dan puasa Ramadhan."
Hadits ini menjelaskan tentang rukun-rukun Islam. Para ulama juga sepakat rukun Islam ada lima. Sekalipun ada yang menambah jihad, diantaranya Abul Ala Al Maududi, Prof Dr. Buya Hamka. Islam tidak akan berdiri tegak pada diri seseorang kecuali menegakkan rukun-rukun tersebut. Dalam ilmu fiqh, rukun adalah amalan yang harus ada agar amalan tersebut dikatakan sah. Misalnya ruku’ dan sujud. Shalat seseorang tidak sah jika tidak melakukan ruku’ dan sujud. Demikian pula, keislaman seseorang menjadi batal, jika meninggalkan salah satu rukun Islam. Jadi pondasi Islam adalah kalimat tauhid (yang dirangkaikan dengan rukun iman) dan pilar-pilar pondasinya adalah rukun Islam. Bangunan Islam yang tidak menggunakan pondasi yang kuat dan tidak disangga oleh tiang-tiangnya bagaikan rumah pasir. Atau laksana permukaan balon. Akan mudah roboh dan hancur serta meletus.

Keempat: Orang muslim adalah orang yang tunduk dan patuh kepada syariat Allah SWT
Orang muslim adalah orang yang taat kepada hukum-hukum (syariat) yang diturunkan oleh Allah SWT. Keislaman seseorang itu menuntut kepasrahan total kepada hukum tersebut. Dan menjalankan secara konsekwen. Jika seorang muslim meragukan dan melecehkan hukum Allah SWT, rukun iman, rukun islam, pakaian takwa (libasut taqwa), sebenarnya ia bukanlah disebut muslim/muslimah.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيداً
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut. Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (QS. An Nisa: 60)

Thoghut, adalah yang selalu memusuhi Nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan Abu Barzah seorang tukang tenung di masa Nabi. Termasuk Thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. berhala-berhala.

Ayat ini menegaskan bahwa orang tidak disebut muslim dan mukmin kecuali dia tunduk kepada hukum Allah SWT. Sedangkan orang yang mengaku tetapi dia memilih dan mencari hukum selain hukum-Nya tidaklah disebut muslim. Keislaman dan keislaman hanya sebatas za’mun (klaim) saja.
Amantu billah (aku telah beriman kepada Allah SWT). Artinya, sekarang saya telah mengenal siapa Allah SWT, pengenalan (ma’rifat) yang disertai oleh keyakinan. Inilah hakikat keimanan. Wa aslamtu ilaihi (saya telah berserah diri kepada-Nya secara lahir dan batin). Menyerahkan diri dengan kebulatan hati. Segala perintah dan hukumya aku taati, suruhan-Nya aku kerjakan, larangan-Nya aku tinggalkan, dengan segenap keridhaan. Inilah hakikat keislaman.
Lihatlah doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika menuju ke tempat pembaringan. Yang menggambarkan tentang kepasrahan total.

Allahumma inni aslamtu – Ya Allah kuserahkan segala urusanku kepada-MU.
Wajjahtu wajhi ilaika – Dan kuhadapkan wajahku kepada-MU.
Wa Fawwadhtu amri ilaika – Dan kuserahkan segala urusanku kepada-MU.
Wa alja-tu dhohri ilaika – Dan kusandarkan punggungku hanya kepada-MU.
Raghbatan wa rahbatan ilaika – dengan penuh harapan ridha-MU.
Laa malja-a – tiada tempat kembali
Wa laa manja minka illa ilaika – Tiada tempat berlindung dan tiada tempat melepaskan diri daripada-MU selain kepada-MU.
Amantu bikitabikalladzi anzalta wa binabiyyikalladzi arsalta – Aku beriman terhadap kitab-MU yang telah Engkau turunkan, dan terhadap nabi-nabi-MU yang telah Engkau utus (HR. Bukhari dan Muslim).

 Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan: Doa-doa tersebut kita baca menjelang kematian (tidur). Di dalamnya mengandung tiga unsur rukun iman. Iman kepada Allah SWT, iman kepada kitab-kitab-Nya dan iman kepada Rasul-rasul-Nya.
Kelima: Seorang dikategorikan muslim dan mukmin jika memandang muslim yang lain sebagai saudara bagaikan saudara seketurunan.

Dalam al-Quran, Allah SWT selalu menyebut orang beriman dengan menggunakan kata jamak (plural) “amanuu”. Dengan demikian bisa dipahami bahwa mukmin yang benar adalah mukmin yang memiliki ikatan solidaritas social yang kuat dengan mukmin yang lain. Jika tidak, keimanannya cacat dari dalam.
ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
"Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggambarkan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Katakanlah, Aku tidak meminta kepadamu sesuatu apapun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya pada kebaikan itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. Asy Syura: 23).
Kesimpulannya, orang disebut Muslim adalah orang yang membebaskan diri dari penjajahan kemusyrikan dan kekafiran, kemudian mengikrarkan dua kalimat syahadat, serta komitmen (iltizam) dengan kalimat tersebut, dan ridha dengan hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT. Dan memandang mukmin lainnya seperti saudara sekandung.
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya “Thariqul Hijratain wa babus sa’adatain” menjelaskan tentang rekonstruksi (penataan ulang) redefinisi (pembaharuan definisi) tentang Islam.
Beliau mengatakan: "Islam adalah mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya, dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti apa yang datang dari-Nya, terikat secara ma’nawi (immaterial) dengan muslim lainnya, tidak sebatas ikatan material (geografis), maka ia adalah orang Islam (muslim)."
Maka, mari kita pertahankan keislaman kita hingga titik darah penghabisan. Dan kita wariskan kepada anak cucu kita. Inilah warisan yang paling berharga. Karena agamamu adalah darah dagingmu (dinuka lahmuka), meminjam istilah yang digunakan Rasulullah SAW pada perang Uhud.

Sudah saatnya kita mengadakan rekonstruksi (penataan ulang), transformasi (pencerahan) dan melakukan muhasabah/evaluasi secara mendasar dan kritis terhadap pemahaman dan penghayatan terhadap dinul Islam. Dengan harapan kita memperoleh kesadaran serta pemahaman yang baru (al-Wa’yu), yaitu menjadi muslim secara hakiki (sebenarnya) di mata Allah SWT bukan sekedar muslim di mata manusia, dan muslim sebagaimana yang dipahami lingkungan sosial kita.*/Kudus, 22 Ramadhan 1432 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar